Tak terasa bulan Ramadhan datang kembali dan umat Islam
di seluruh penjuru dunia akan melaksanakan ibadah puasa. Selain sebagai
ibadah, berpuasa juga terbukti bermanfaat besar bagi kesehatan tubuh.
Apa saja manfaat kesehatan dari berpuasa?
Menurut
The National Academy of Sciences,
manfaat puasa bagi kesehatan diantaranya adalah menambah ketahanan
tubuh terhadap stres, meningkatkan sensitivitas insulin, mengurangi
risiko terkena berbagai penyakit, dan bahkan membuat awet muda dan
panjang umur.
Penelitian jangka pendek pada beberapa subyek orang yang berpuasa
menunjukkan manfaat dalam penurunan berat badan (weight loss). Hal ini
dimungkinkan karena terjadinya perbaikan profil lipid darah, termasuk
penurunan level LDL (kolesterol buruk) sehingga rasionya lebih rendah
daripada HDL (kolesterol baik).
Meski juga terjadi penurunan level HDL yang sangat sedikit secara
statistik, namun hasil tersebut akan memberi manfaat yang positif
terhadap level obesitas seseorang yang sedang menjalankan puasa.
Untungnya puasa Ramadhan hanya berlangsung sekitar 30 hari, karena
menurut penelitian, puasa lebih dari 30 hari dapat beresiko menimbulkan
beberapa masalah kesehatan.
Manfaat Puasa bagi Kesehatan
Tanpa memandang dari segi agama, berikut adalah beberapa manfaat berpuasa bagi kesehatan kita :
- Membantu membakar lemak lebih banyak karena terjadi perubahan
drastis dalam pola asupan kalori sehingga dapat dimanfaatkan sebagai
shock therapy bagi metabolisme badan dalam membakar lemak lebih banyak.
- Mengalihkan penggunaan glukosa ke lemak sebagai sumber energi secara
perlahan sehingga mencegah kerusakan otot. Penggunaan lemak untuk
energi akan membantu menurunkan berat badan, mempertahankan massa otot,
dan dalam jangka panjang akan mengurangi kadar kolesterol darah.
- Penurunan berat badan dan meningkatnya sensitivitas insulin saat
berpuasa akan membantu dalam kontrol terhadap diabetes dan mengurangi
tekanan darah.
- Sebagai proses detoksifikasi atau proses pengurangan kadar racun
dari dalam tubuh karena zat racun yang tersimpan lemak akan larut dan
dikeluarkan dari tubuh.
- Meningkatkan kondisi mental, kewaspadaan, dan fokus karena beberapa
hormon tertentu seperti endorfin mengalami peningkatan dalam darah
setelah beberapa hari berpuasa.
- Menghentikan atau setidaknya mengurangi berbagai kebiasaan buruk
atau pola hidup tidak sehat yang merugikan kesehatan seperti merokok,
mengonsumsi minuman beralkohol, menggunakan narkoba, begadang, dan
lain-lain. Jelas sekali menghentikan berbagai kebiasan yang merugikan
kesehatan tersebut akan membuat Anda lebih sehat, awet muda, dan panjang
umur.
- Mengurangi dan mengendalikan nafsu makan yang berlebihan. Saat
berbuka puasa, Anda akan menyadari betapa sedikit saja mengonsumsi
makanan dan minuman sudah cukup membuat perut kenyang dan memuaskan
napsu makan Anda. Hal tersebut akan membuat Anda lebih bijak dalam
menentukan seberapa banyak porsi makan Anda termasuk setelah bulan puasa
berakhir.
- Melatih kedisiplinan dalam pola hidup menjadi lebih sehat. Dengan
berpuasa, Anda belajar lebih disiplin kapan waktunya makan, tidur, dan
beraktivitas. Pengaturan disiplin waktu makan dan kebutuhan untuk
beristirahat (tidur) yang cukup agar dapat beraktivitas optimal di
keesokan harinya akan membuat pola hidup Anda lebih sehat.
- Mencegah berbagai jenis penyakit kardiovaskular terkait kolesterol.
Manfaat ini diperoleh karena saat berpuasa terjadi perbaikan profil
lipid darah, termasuk penurunan level LDL (kolesterol buruk) sehingga
rasionya lebih rendah daripada HDL (kolesterol baik).
Puasa bagi Penderita Sakit Maag dan Diabetes
Menurut dr. Jeffry Tenggara, Sp.PD., internisdi MRCCC Siloam Hospital
Semanggi dan Hemato-Oncology residence FKUI-RSCM Jakarta, puasa akan
menjadi hal yang cukup berat bagi para penderita diabetes dan sakit
maag, namun hal ini juga bukan merupakan suatu halangan untuk berpuasa
dengan beberapa catatan tentunya.
Bagi penderita sakit maag, tentukan dahulu apakah Anda termasuk
penderita yang aman atau tidak untuk ikut berpuasa. Penderita sakit maag
organik tidak disarankan untuk berpuasa. Bagi para penderita sakit maag
non organik, yang terpenting adalah pengaturan makan yang tepat dan
penggunaan obat untuk menekan produksi asam lambung.
Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan bagi para penderita sakit maag yang akan berpuasa menurut dr. Jeffry :
- Konsumsi makanan tinggi serat dan dengan kadar indeks glikemik yang
rendah seperti nasi merah dan roti gandum pada saat buka dan sahur.
- Pada saat berbuka, jangan langsung makan dalam porsi besar.
Berbukalah dengan makanan ringan atau buah dalam porsi kecil dan
dilanjutkan dengan makanan porsi lengkap setelah selesai sholat maghrib.
- Jangan pernah melewatkan makan sahur dan makanlah dengan porsi
lengkap. Kebiasaan buruk yang terjadi adalah makan sahur sering terlewat
karena ketiduran atau sahur hanya dengan nasi dan mi instan saja.
- Hindari makan yang berminyak dan berlemak karena justru mempercepat pengosongan lambung dan mudah menjadi cepat lapar.
- Hindari makanan yang terlalu manis saat sahur, karena akan memicu
hormon insulin berlebihan dan terjadi kondisi hipoglikemi (kadar gula
rendah).
- Hindari sayuran seperti kubis atau kol karena dapat meningkatkan produksi gas dalam lambung.
Penderita diabetes yang sudah berusia lanjut (diatas 60 tahun) dan
atau dengan komplikasi penyakit jantung dan hipertensi juga tidak
disarankan untuk berpuasa, namun tidak mutlak dan melihat fakta kondisi
fisik dan kesehatannya.
Sedangkan bagi diabetisi pengguna obat oral, perlu dilakukan
penyesuaian dosis dan waktu minum obat dengan waktu berpuasa. Berikut
adalah hal-hal yang perlu diperhatikan bagi para penderita diabetes yang
akan berpuasa menurut dr. Jeffry :
- Tidak boleh melewatkan makan saat berbuka dan sahur dengan alasan
apapun. Pola makan saat puasa adalah sama dengan pada saat tidak
berpuasa. Makan berlebihan saat berbuka dan melewatkan atau hanya makan
sahur sekedarnya berbahaya bagi diabetisi karena bisa menyebabkan
peningkatan dan penurunan gula darah secara drastis.
- Saat berbuka, konsumsilah karbohidrat kompleks seperti nasi merah
dengan banyak serat dari sayuran atau buah kurma (bukan manisan kurma).
Jangan mengonsumsi karbohidrat sederhana seperti sirup atau kolak manis
untuk mencegah lonjakan gula darah.
- Saat sahur, tidak disarankan makan sekadarnya seperti hanya mi
instan atau sepiring nasi goreng karena bisa berakibat tidak dapat
mempertahankan gula darah saat berpuasa. Namun juga tidak disarankan
makan sahur berlebihan karena bisa menyebabkan lonjakan gula darah yang
akan membuat Anda merasa lemas seharian.
- Pengaturan obat penurun gula atau insulin. Untuk pengguna obat oral,
dosis disesuaikan dengan perubahan pola makan saat puasa. Untuk obat
dosis sekali sehari, minumlah saat berbuka dengan dosis yang sama. Untuk
obat dosis 2 kali sehari, dosis pertama diminum saat berbuka, lalu
setengah dari dosis kedua saat sahur. Untuk obat dosis 3 kali sehari,
turunkanlah menjadi 2 kali sehari saat berbuka dan sahur. Bagi pengguna
suntikan insulin sekali sehari, suntikkan saat berbuka.Untuk dosis
suntikan 2 kali sehari, dosis awal diberikan penuh saat berbuka dan
setengah dari dosis kedua saat sahur.
Kesimpulannya, berpuasa ternyata tidak hanya sekedar untuk
menjalankan ibadah saja tetapi telah terbukti bermanfaat bagi kesehatan.
Jadi, selamat menjalankan ibadah puasa dan semoga Anda semakin sehat!
(aan)
INFO DARI
Ghiboo.com - Memasuki bulan suci Ramadhan, umat Muslim diharuskan untuk menahan makan dan minum selama 14 jam.
Lalu, bagaimana cara agar tubuh tidak mudah lemes saat berpuasa?
Hindari minuman berkafein dan soda. Ahli medis
mengatakan bahwa kafein dalam kopi bertindak sebagai diuretik, yang
menyebabkan buang air kecil berlebihan setelah meminumnya dan
mengakibatkan dehidrasi. Ketika mengalami dehidrasi, tubuh bisa menjadi
lemas, pusing, bahkan pingsan.
Memenuhi kebutuhan cairan. Minum dua liter air
mineral setiap hari secara teratur saat sahur, berbuka dan setelah solat
taraweh untuk menghindari dehidrasi. Mengurangi minuman manis juga
disarankan karena merangsang rasa haus cepat muncul.
Sayuran dan buah. Ingin mengatasi dehidrasi selama
ramadhan? Manfaatkan buah dan sayuran kaya air, seperti semangka, melon,
tomat dan jeruk. Selain kaya air, buah-buahan juga kaya akan nutrisi
yang membantu mencukupi asupan stamina dan energi.
Minum susu. Untuk mencegah dehidrasi pada anak-anak,
dapat diberikan susu saat menjelang imsak dan setelah berbuka puasa.
Studi di McMaster University menunjukkan bahwa susu membantu kecukupan
cairan tubuh, disamping kandungan protein, elektrolit, kalsium dan
sebagainya yang bagus untuk kesehatan.
INFO DARI
DREAMERSRADIO.COM - Bulan puasa sebentar lagi tiba.
Biasanya saat berpuasa berbagai makanan enak disajikan sebagai
hindangan. Namun, penting untuk memilih dan memperhatikan asupan makanan
kedalam tubuh saat berpuasa. Karena bila sembarangan makan atau minum
bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Nah, sebagai persiapan menghadapi
bulan ramadhan, simak makanan dan minuman yang perlu dihindari saat
berpuasa :
Makanan yang mengandung Keju dan Coklat Berlebih
Hmmm cheese cake dan berbagai makanan berbahan keju dan coklat
memang menggoda. Setelah seharian berpuasa makanan manis sangat
menggoda. Namun, sebaiknya hindari makanan ini atau jangan dikonsumsi
berlebihan. Sebabnya, makanan tersebut sulit dicerna. Karena sulit
dicerna maka lambung kita akan lambat untuk memprosesnya. Sehingga perut
bisa menjadi kembung.
Kopi
Kopi mengandung kafein yang tinggi. Kafein pada kopi sangat tidak
baik untuk lambung kita. Apalagi saat berpuasa lambung kita tidak terisi
lebih dari 14 jam. Secara otomatis asam lambung akan meningkat. Kopi
sendiri merangsang pengeluaran asam lambung. Produksi asam lambung
berlebih akan membuat kita merasa mual.
Makanan Pedas Dan Mengandung Banyak Merica
Makanan pedas selalu menggoda selera makan. Rasa pedas bisa
meningkatkan nafsu makan kita. Apalagi setelah seharian berpuasa.
Hati-hati mengkonsumsi makanan pedas karena makanan pedas dapat merusak
dinding lambung. Karena dinding lambung juga sensitif terhadap pedas.
Permen Karet dan Gorengan
Asam lambung sangat berbahaya bagi tubuh kita. Permen dan gorengan
bisa memicu keluarnya asam lambung. Maka hindari memakan permen dan
gorengan saat berbuka puasa, Karena saat berpuasa perut sangat sensitif
dan asam lambung mudah meningkat.
Itulah beberapa makanan serta minuman yang baiknya tidak dikonsumsi secara belebihan dan dihindari saat berpuasa nanti.
INFO DARI
VISTA – Banyak orang puasa merasakan haus atau badan
lemas di siang. Ini bisa jadi akibat makanan yang dikonsumsi saat sahur
kurang tepat sehingga tidak mampu memberikan dukungan cairan kepada
tubuh yang sedang diajak berpuasa.
Ahli gizi dr. Wisnu Wardhana
mengingatkan, saat berpuasa tubuh banyak kehilangan cairan. Untuk
itulah, katanya kepada Vista, saat berbuka maupun sahur, konsumsi air
putih harus memadai guna menghindari dehidrasi dan memenuhi kebutuhan
cairan selama berpuasa.
“Kalau bisa delapan gelas,” ujarnya.
Berikut
ini tips sahur sehat bagi yang berpuasa, seperti dituturkan dr. Wisnu
Wardhana, agar tubuh tetap bugar walaupun menjalankan puasa.
Konsumsi wajib:
1. Utamakan mengonsumsi air putih secukupnya untuk menghindari dehidrasi dan memenuhi kebutuhan cairan selama berpuasa.
2. Konsumsi vitamin dan minuman elektrolit, misalnya air kelapa, untuk menggantikan elektrolit dalam tubuh selama berpuasa.
3. Makan buah yang banyak mengandung air, seperti semangka. Atau kalau mau praktis, bisa juga mengonsumsi jus buah.
4. Perbanyak konsumsi makanan kaya serat.
5.
Konsumsi menu dengan karbohidrat kompleks yang banyak terdapat pada
gandum, nasi merah, dan ubi. Jenis makanan yang mengandung karbohidrat
kompleks dapat menstabilkan gula darah dan dapat memberikan efek kenyang
lebih lama.
Ketika menjalankan ibadah puasa, dia menyarankan
untuk menghindari olah raga berat. Alasannya, gerak badan seperti itu
membutuhkan energi yang tinggi.
Selain itu, ada juga sejumlah
makanan dan minuman yang sebaiknya dihindari selama sahur, sehingga
tidak memberikan dampak buruk pada tubuh saat berpuasa:
Yang harus dihindari:
1. Minuman yang merangsang
pengeluaran asam lambung yakni kopi, minuman beralkohol, sari buah
sitrus seperti jeruk yang memberikan kesegaran sesaat, serta susu.
2. Makanan sulit dicerna yang dapat memperlambat pengosongan lambung. Misalnya kue tart, coklat, dan keju.
3.
Makanan yang secara langsung merusak dinding lambung, yaitu makanan
yang mengandung cuka dan pedas, serta merica dan bumbu yang merangsang.
4.
Makanan yang menyebabkan cairan lambung dapat naik ke kerongkongan
antara lain alkohol, coklat, makanan tinggi lemak, gorengan.
5. Harus dihindari juga, antara lain makan permen. Khususnya permen karet serta merokok karena memicu keluarnya asam tinggi.
Disiplin dengan konsumsi makanan dan minuman saat berpuasa akan membuat Anda tetap bugar.
Bau Mulut
Sebentar lagi umat Islam dari seluruh dunia akan
menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Namun ada
satu hal yang bisa mengurangi kepercayaan diri sesorang pada saat
berpuasa, yaitu bau mulut. Ingin tahu cara mencegahnya?
Bau mulut secara medis disebut juga halitosis disebabkan oleh
kebiasaan perawatan gigi yang buruk dan juga merupakan tanda masalah
kesehatan lainnya. Bau mulut juga dapat disebabkan oleh jenis makanan
yang dikonsumsi dan kebiasaan gaya hidup tidak sehat lainnya.
Kebiasan
mengonsumsi makanan atau minuman manis pada saat berbuka puasa dapat
menyebabkan nyeri terutama pada gigi berlubang dan berkontribusi pada
bau mulut. Untuk menjaga kesegaran napas sepanjang hari dan kesehatan
gigi diperlukan langkah-langkah untuk mempersiapkan diri sebelum
melaksanakan ibadah puasa. Bau mulut yang kurang sedap akan sangat
berpengaruh pada kepercayaan diri saat sedang berkomunikasi dengan orang
lain.
Nah, ada 5 hal yang bisa membantu mencegah bau mulut Anda pada saat berpuasa, yaitu :
1. Minumlah air putih yang cukup pada saat sahur dan
berbuka, untuk mencegah mulut kering. Salah satu penyebab bau mulut
pada saat berpuasa disebabkan oleh mulut mengalami kekeringan akibat
kurangnya cairan ludah (saliva).
2. Gosok gigi dan juga lidah Anda secara menyeluruh
setelah sahur. Dua sumber utama bau mulut ialah bakteri dan sisa makanan
yang membusuk, maka dari itu diperlukan perawatan yang teratur dengan
cara menyikat gigi, bisa juga menggunakan
dental floss, untuk bisa menjangkau sisa makanan yang terselip diantara gigi.
3. Minumlah teh hijau tanpa gula saat berbuka puasa, kerena teh hijau diketahui memiliki kandungan zat
polyphenol yang dapat membantu membunuh bakteri yang menyebabkan bau mulut.
4. Kurangi makanan yang mengandung banyak gula, kerena makanan manis bisa menyebabkan nyeri pada gigi berlubang sehingga dapat menimbulkan bau mulut.
5. Hindari makanan yang yang bisa memicu bau mulut seperti
misalnya cokelat. Cokelat adalah makanan yang bersifat diuretik
(merangsang pengeluaran urin). Akibatnya, mulut akan cepat mengalami
kekeringan.
INFO DARI
Ghiboo.com - Saat berpuasa, masalah bau mulut
sering kali dialami banyak orang. Hal ini wajar karena saat berpuasa
terjadi penurunan produksi air liur.
Demi menjaga kesehatan gigi dan rongga mulut selama berpuasa,
Drg. Ratu Mirah Afifah GCClindent, MDSc, dokter gigi dan Professional
Relationship Manager Oral Care, PT Unilever Indonesia, Tbk, membocorkan
rahasianya.
"Karena bulan puasa, terjadi sedikit perubahan waktu dan jumlah
sikat gigi. Jika biasanya sikat gigi dua kali sehari, kali ini ditambah
menjadi tiga kali sehari," jelas Drg. Mirah saat pembukaan Pepsodent
Dental Expert Center (PDEC) di Gandaria City beberapa waktu.
1. Sikat gigi sehabis sahur, sikat pula permukaan lidah karena lidah merupakan tempat bakteri berkumpul.
2. Setelah berbuka puasa juga disarankan agar mulut terasa lebih segar sebelum menjalankan ibadah solat taraweh.
3. Malam sebelum tidur, karena biasanya sehabis taraweh kita akan makan lagi dan sikat gigi sebelum tidur membantu membunuh bakteri-bakteri dalam mulut.
TRIBUNNEWS.COM - DIARE, kembung, dan rasa perih pada
lambung kerap dirasakan tiap orang berpuasa karena keteledoran
mengonsumsi makanan saat sahur. Padahal, pilihan makanan pada sahur saat
berpengaruh pada aktivitas dan metabolisme tubuh selama puasa.
Rosihan
Anwar SGz, dosen di Kemenkes Banjarmasin, mengingatkan agar jenis dan
kualitas asupan makanan di saat sahur. Menjaga kualitas makanan saat
sahur.
Jangan makan hidangan malam yang kemudian dipanaskan
lagi pagi harinya karena kualitas makanannya jadi tidak fresh dan
dikhawatirkan terkena bakteri atau bahan lain penyebab diare.
"Saat
sahur boleh mengonsumsi hidangan malam yang dipanaskan, asal makanan
itu dibuat pada malam hari, bukan pada siang harinya. Sehingga bukan
makanan yang dipanaskan dua kali, dan kualitas makanannya tetap
terjaga," kata Rosihan.
Cermat dalam memilh jenis makanan juga
penting diperhatikan. Sebaiknya saat sahur jangan makan makanan yang
mengandung lemak. Karena makanan berlemak membuat proses pencernaannya
panjang dan juga sangat tidak dianjurkan untuk menyantap makanan
berkadar lemak tinggi saat sahur kemudian diakhiri dengan tidur.
"Batasi
minuman teh dan kopi. Kalau minum kopi bisa menyebabkan buang air kecil
jadi terus-terusan. Sementara kita akan berpuasa selama 12 jam ke
depan. Sebaiknya, konsumsi kopi dilakukan saat berbuka, bukan saat makan
sahur," katanya.
Untuk memperlancar buang air besar saat
sahur, dapat diganti dengan mengonsumsi buah dan sayur. Juga dianjurkan
agar tiap orang yang berpuasa untuk meminum susu.
Minuman ini sangat penting dikonsumsi saat sahur karena mengandung lemak dan kalsium untuk penambah tenaga.
Di
samping itu juga harus menjaga agar makanan jangan sampai tercemar atau
terkena serangga. Pastikan air minum kita selalu dimasak dan hindari
mengonsumsi es berlebihan karena es juga bisa menyebabkan diare.
INFO DARI YAHOO
Agama Islam memberikan pengecualian untuk wanita menyusui di bulan
Ramadan. Mereka diperkenankan untuk tidak menjalankan ibadah puasa,
namun tetap harus menggantinya melalui dua cara, yaitu mengganti dengan
puasa di luar Ramadan atau membayar fidyah (barang penebus).
Dibolehkan
tidak berpuasa bukan berarti dilarang berpuasa. Tentu saja banyak juga
ibu menyusui yang memilih ikut menjalankan ibadah puasa selama Ramadan.
Namun apa pengaruhnya dari segi kesehatan?
Ahli gizi Christine
Natalie menyarankan sebaiknya tidak usah berpuasa jika ibu yang sedang
menyusui itu memang merasa tidak sehat atau terganggu. Ini demi kebaikan
ibu dan bayinya yang sedang disusui. “Tapi jika memang merasa sehat,
silakan berpuasa,” tuturnya.
Menurut dia, hingga saat ini belum
ada dampak negatif bagi seorang ibu yang menyusui saat menjalankan
puasa. Tentu saja sepanjang hal itu dijalankan dalam kondisi tidak lemas
dan asupan tetap terjaga. “Sebab saat berpuasa komposisi zat gizi pada
ASI tidak akan berubah,” ujarnya.
Jika memang ibu yang sedang
menyusui tetap ingin berpuasa di saat Ramadan, Christine menyarankan
agar tetap makan tiga kali sehari. Yakni saat berbuka, selepas tarawih,
dan sahur. Selain itu, pola gizinya harus seimbang, dengan tetap
memperbanyak cairan yang masuk ke dalam tubuh. “Jangan lupa juga,
istirahat harus mencukupi,” lanjutnya.
Dia juga mengungkapkan
bahwa untuk menambah protein, sebaiknya saat makan ditambah dengan
suplemen berupa jus buah, susu, atau madu.
Di tempat terpisah,
Abas Jauhari, dosen di Universitas Islam Negeri menjelaskan, kondisi
kesehatan atau alasan medis bisa dijadikan illat (motif penetapan hukum)
diperbolehkannya ibu yang menyusui untuk tidak berpuasa. “Jadi agama
memang memperkenankan,” katanya.
Karena itu, kata dia, penilaian
kedokteran atau medis dalam hal puasanya ibu menyusui menjadi sangat
penting. Jika memang mengganggu atau bisa mendatangkan dampak buruk
terhadap kesehatannya maupun kesehatan bayinya, bisa jadi dasar tidak
berpuasa.
Kendati demikian, sesuai ajaran agama, puasanya harus
diganti di luar bulan Ramadan, seperti dilakukan oleh orang yang tidak
mampu menjalankan puasa akibat larangan lain.
Bisa juga, lanjut Abas
yang juga bekerja di Departemen Agama itu, diganti dengan membayar
fidyah. “Yakni memberi makan fakir miskin sebagai pengganti tidak
berpuasa,” katanya.
Ketentuan minimumnya adalah dengan menghitung
jumlah puasa yang ditinggalkan. Jika satu hari, maka penebusnya
diberikan kepada satu fakir miskin. Begitu seterusnya.
Sedangkan
seberapa besar yang harus diberikan, katanya, soal fikih seperti ini
banyak perbedaan pendapat. “Bisa juga ukurannya sesuai dengan kebiasaan
atau selayaknya yang kita makan. Jangan dikurangi,” ungkapnya.
Abas
menjelaskan, cara membayar fidyah ini bisa dilakukan setiap hari selama
bulan Ramadan selepas waktu berbuka, bisa juga dikumpulkan di satu hari
usai Ramadan. Agama juga memperkenankan memberikan makanan yang belum
dimasak, misalnya berupa beras serta lauk-pauknya.
Namun Abas
juga mengingatkan bahwa membayar fidyah tidak bisa digantikan dengan
uang dalam jumlah tertentu. Jadi bentuknya adalah kebutuhan pokok.
“Seandainya mau mengganti dengan puasa sebanyak yang ditinggalkan, itu
lebih baik,” katanya.
INFO DARI
Ghiboo.com - Bulan Ramadhan sudah datang. Saatnya kewajiban puasa sebulan penuh dilaksanakan.
Bagi kesehatan, puasa itu baik. Sayangnya, masih banyak diantara kita yang salah mengatur pola makan saat berbuka dan sahur.
Ahli gizi klinis, dr. Samuel Oetoro, SpGK, menyarankan agar tetap mengonsumsi makanan sehat selama berpuasa.
"Rumusnya adalah 4J: jumlah, jadwal, jenis dan jurus masak," jelasnya.
Dokter yang bekerja di MRCC Siloam Hospital Semanggi, Jakarta,
ini pun memberikan beberapa tip dan pola makan yang benar selama bulan
puasa.
1. Jadwal
Tentu saja selama berpuasa terjadi perubahan jadwal makan. Dari
biasanya tiga kali sehari, kini hanya dua kali sehari, yaitu saat sahur
dan buka. Dokter Samuel mengajak kita agar pintar menyiasatinya.
"Pilih makanan saat sahur yang bisa bertahan lama di tubuh dan
menjaga kadar gula darah tetap stabil. Jangan menyantap makanan yang
memicu kadar gula darah cepat turun karena menyebabkan timbulnya rasa
lapar lebih cepat," jelasnya.
2. Jumlah
Jumlah makanan yang kita santap saat sahur harus sama seperti
saat kita makan di hari biasa. Saat melek untuk makan sahur, pilihlah
makanan lengkap yang terdiri dari nasi, sumber protein dan lemak yang
lengkap.
3. Jurus memasak
Nutrisi dari setiap makanan bisa diketahui dari cara masak.
Selama puasa, kebanyakan orang asal memilih makanan asalkan kenyang.
Padahal jika tahu triknya, makanan akan sangat membantu tubuh agar tidak
mudah lapar, lemah, letih dan lesu.
"Jangan banyak makan makanan gorengan dan terlalu banyak protein
karena bisa bikin cepat haus. Pilih karbohidrat kompleks, yaitu nasi
merah, yang membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil," ungkapnya.
4. Jenis
Dokter Samuel juga menyarankan untuk memasukkan sumber gula 10
menit menjelang imsak. Tapi, jangan masukkan gula kompleks atau makanan
serba manis. Makanlah buah atau sayur yang mengandung karbohidrat dan
berserat.
"Buahnya langsung dikunyah atau diblender, bukan di jus.
Karbohidrat dalam buah akan diserap tubuh secara perlahan dan turun
pelan-pelan sehingga serat ini membantu menjaga gula darah tetap stabil
dan tidak bikin cepat lapar. Sesudahnya, minum air putih minimal empat
gelas agar tidak dehidrasi," jelasnya.
Hampir 14 jam berpuasa, akhirnya tiba saatnya berbuka. Karena
kadar gula darah sudah sangat rendah, maka segeralah berbuka dengan yang
manis. Eits, bukan kolak, sirup, teh atau es buah. Pilih manis yang
sehat, yaitu jus buah.
"Kalau pas sahur buahnya dikunyah, pas buka buahnya di jus,
karena tidak ada seratnya. Pilih buah yang banyak airnya, seperti
semangka, melon atau jeruk. Jus cuma mengandung air dan sangat
dibutuhkan karena selama berpuasa kadar air dalam tubuh rendah,"
jelasnya.
Lanjut dengan sholat magrib. Sesudah sholat, Anda boleh makan
lengkap seperti saat sahur. Kemudian solat taraweh. Pulangnya, boleh
makan makanan mengandung karbohidrat kompleks untuk mengisi otot dan
menjadi cadangan karbohidrat untuk puasa esok hari.
INFO DARI YAHOO
Olahraga bukan kegiatan yang dilarang saat berpuasa. Tapi kapan waktu
yang tepat harus menjadi pertimbangan penting. Begitu juga dengan teknik
dan jenis olahraga yang dilakoni.
Sejatinya, menurut ahli
kesehatan dr Emmanuel Ventri, tidak ada pantangan berolahraga saat
berpuasa. Gerak raga saat puasa justru membuat tubuh tetap bugar dan
fit. Namun demikian aktivitas tersebut tetap harus memperhatikan faktor
risiko dehidrasi (kekurangan cairan tubuh).
Karena itu dia
menyarankan, olah raga sebaiknya dilakukan 1 sampai 1,5 jam sebelum
berbuka. “Begitu berbuka, cairan atau keringat yang dikeluarkan tubuh
saat berolah raga segera tergantikan. Segera minum setelah berlatih juga
dapat menurunkan kembali suhu badan yang meningkat ketika berolah
raga,” jelas Emmanuel.
Secara prinsip, Emanuel menjelaskan, puasa
memberikan manfaat secara biopsikososial. Yakni, sehat jasmani, rohani
dan sosial. Sementara olah raga merupakan serangkaian gerak raga secara
teratur dan terencana untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan gerak.
“Seperti halnya makan, gerak (olahraga) merupakan kebutuhan
hidup yang sifatnya terus menerus. Artinya olahraga sebagai alat untuk
memelihara dan membina kesehatan tidak dapat ditinggalkan,” kata
Emmanuel.
Di tempat berbeda, dr Grace Tumbelaka, spesialis
kedokteran olahraga sependapat dengan prinsip itu. Hal penting yang
perlu diperhatikan adalah rambu-rambu berolah raga selama puasa, seperti
risiko dehidrasi tadi.
Bila tidak ada masalah dengan jantung,
Grace menyarankan, lakukan olah raga dengan intensitas sedang, yaitu
60-80 persen dari denyut jantung maksimal. Ada baiknya pula olahraga
dilakukan di tempat sejuk supaya tidak dehidrasi.
Jenis olahraga
yang direkomendasikan meliputi jogging ringan, aerobik low impact,
yoga, taichi, atau bersepeda. “Pada prinsipnya lakukan olah raga yang
bersifat meningkatkan kebugaran dan daya tahan buat paru-paru. Olah raga
seperti jogging, bersepeda, aerobik, mudah terukur intensitasnya,” kata
Grace.
Mengenai lamanya waktu berolah raga, menurut Grace,
sangat tergantung pada kemampuan masing-masing orang. “Yang penting
jangan lupa, 20-30 menit latihan inti harus didahului pemanasan antara
5-10 menit. Kemudian ada proses pendinginan selama 10 menit, di mana di
dalamnya terdapat peregangan,” ujarnya.
Sebagai contoh, kalau
berolah raga dengan treadmill sekitar 20-30 menit, ditambah pemanasan
serta persiapannya bisa memakan waktu 45 menit-1 jam.
Untuk
mencegah dehidrasi berlebihan saat berolahraga dalam kondisi puasa,
Grace menyarankan perlunya menerapkan rumus olahraga FITT (frekuensi,
intensitas, time, dan type) yakni:
Frekuensi: Lakukan antara 3-5 kali/minggu
Intensitas: 60-80 persen dari denyut jantung maksimal (Intensitas rendah-sedang, cukup berkeringat saja dan tidak bercucuran).
Time: 20-30 menit, namun sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan.
Type:
Pilihlah olah raga untuk meningkatkan daya tahan jantung dan paru,
seperti aerobic low impact, jalan, jogging ringan, bersepeda, taichi,
yoga.
TRIBUNNEWS.COM - Tidur setelah sahur
memang tidak haram. Namun, dari sisi ilmu gizi dan kesehatan tidur
setelah makan sangat tidak dianjurkan bahkan dalam kategori dilarang
karena dampak buruknya sangat banyak.
Pramono, ahli gizi dari Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin
dalam tulisannya kepada Tribunnews.com mengatakan dampaknya antara lain
perut akan jadi buncit karena saat tidur tubuh jadi hemat energi dan
secara otomatis lemak akan mudah tertimbun di perut kita.
Juga akan terjadi refluks, karena makanan belum dicerna maka bisa
berbalik dari lambung ke kerongkongan (atau biasa disebut refluks)
karena pengaruh gravitasi akibat kita tidur.
"Jika terjadi refluks maka asam lambung akan naik dan melukai
kerongkongan. Karena mengalami luka, kerongkongan akan terasa panas
seperti terbakar, dan mulut pun terasa pahit," tulis Pramono.
Normalnya isi lambung/maag akan kosong kembali sekitar dua jam
setelah kita makan, tapi kalau posisi tubuh kita berada pada posisi
baring, maka proses pengosongan lambung/maag akan terhambat/terlambat.
Hal ini akan mengakibatkan timbulnya gangguan pencernaan seperti mencret
atau sembelit tergantung bahan makanan yang kita makan.
Meningkatnya resiko terkena stroke juga bisa saja terjadi kalau kita
tidur setelah sahur. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa orang yang
memiliki jeda paling lama antara makan dan tidur mempunyai risiko
terendah untuk mengalami stroke.
Jika seandainya kita masih ingin tidur setelah makan sahur atur saja minimal 2 jam setelah makan sahur baru tidur.
Tak heran jika banyak ulama berpendapat bahwa tidur setelah makan sahur sebaiknya tidak di lakukan .
Nabi Muhammad SAW telah memberika tuntunan bahwa makan sahur jangan
ditinggalkan dan dianjurkan untuk diakhirkan waktunya jadi sampai
menjelang subuh atau waktu imsyak sehingga secara logika maka setelah
sahur maka langsung dilanjutkan ibadah Sholat Subuh dan jika setelah
sholat subuh dilanjutkan dengan wirid yang cukup panjang maka matahari
telah terbit dan sudah waktunya untuk bekerja.
Rasulullah SAW tidak langsung tidur setelah makan. Beliau
beraktivitas terlebih dahulu supaya makanan yang dikonsumsi masuk
lambung dengan cepat dan baik sehingga mudah dicerna.
Caranya bisa juga dengan shalat. Rasulullah SAW bersabda,"Cairkan
makanan kalian dengan berdzikir kepada Allah SWT dan shalat, serta
janganlah kalian langsung tidur setelah makan, karena dapat membuat hati
kalian menjadi keras."(HR Abu Nu'aim dari Aisyah r.a.).
Nah, masih nekad tidur setelah sahur?